berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

10 Juli 2010

Modis Ke Sekolah, Kenapa Tidak?

Tak satu pun ada remaja yang tak kepingin tampil cantik, gaya dan modis. Lebih-lebih di jaman yang serba “bisa terjangkau” ini. Coba saja kita lihat sore-sore di taman kota, di mall dan berbagai lokasi lain tempat remaja ngumpul. Tak satu pun akan kita temui remaja yang berdandan sekedarnya, atau berdandan polos tanpa aksesories.

Ini adalah fenomena alamiah sejak jaman manusia baru ada. Cuma, tentu saja, dari setiap jaman akan berbeda-beda selera dan ukuran modisnya. Di jaman nenek-nenek kita masih remaja dulu, untuk dibilang modis barangkali cukup tampil dengan bedak beras kencur, bibir merah dengan makan kinangan, kuku merah dicelup ramuan daun pacar. Sementara soal pakaian, 30 atau 40 tahun silam, barangkali cukup berkebaya brokat dipadu kain berwiru serta setangkai selendang di bahu. Bahkan seorang nenek menuturkan, pada jaman remajanya hampir tak ada gadis yang bersandal dalam kesehariannya. Sandal hanya dipakai untuk acara-acara khusus atau kesempatan tertentu. “Maka keluar rumah dengan bersandal saja saat itu, sudah dianggap gaya setengah mati,” tutur nenek tersebut mengenang.

Hari ini tampil bergaya atau modis bukanlah hal yang luar biasa. Setiap gadis remaja bisa memilih sendiri gaya yang disenangi atau diingininya. Semua serba terjangkau. Karena untuk menjadi modis dan tampil gaya saat ini tidaklah perlu serba mahal. Bahkan para gadis remaja yang kreatif bisa mencipakan sendiri style buat dirinya hanya dengan memodifikasi pernak-pernik yang ada di sekitarnya.

Itu adalah gambaran untuk penampilan para gadis remaja secara umum saat ini. Bagaimana dengan penampilan mereka di saat-saat harus masuk sekolah? Adakah peluang untuk tetap tampil gaya di bawah peraturan serta tata tertib sekolah yang ketat?

“Kenapa nggak? Kita tetap bisa gaya kok ke sekolah,” ujar Dian Sukareni, siswi kelas dua SMAN 1 Negara. Cuma saja, lanjut Dian, gaya atau tampil modis ke sekolah memang ada batasnya. “Soal pakaian gak mungkinlah kita aneh-aneh karena kita pake seragam. Jadi yang bisa dibuat gaya paling aksesories semacam cincin, jam tangan atau tas sekolah. Cincin juga gak boleh dari emas,” demikian Dian.

Ketat yang Longgar
Bicara soal ketatnya tata terbit sekolah seputar penampilan siswa-siswi, beberapa siswi ada yang mengistilahkannya dengan “ketat yang longgar”. Maksudnya, memang tidak ada peraturan atau tata tertib sekolah yang menyebutkan para siswa-siswinya boleh tampil modis ke sekolah. Tetapi dalam kenyataannya peraturan dan tata tertip masih boleh disiasati. “Contohnya ya itu tadi, bahwa ke sekolah gak boleh memakai cincin emas, maka kita pake cincin dari perak atau cincin gaya dari bahan lainnya. Dalam peraturannya, rambut siswi gak boleh digerai. Tapi dalam kenyataannya banyak siswi yang berambut sebahu dan tidak diikat. Pihak sekolah masih bisa memberi toleransi asal tidak membiarkan rambut panjang sepinggang digerai,” tutur Gek Rina, siswi SMAN 2 Negara.

Bagi Gek Rina yang aktif dengan banyak kegiatan seni ini, peluang untuk tampil gaya di sekolahnya memang lebih sedikit dari sekolah lain. Karena SMA Negeri 2 Negara yang berpredikat “sekolah kajian” ini, bukan hanya pakaian yang harus seragam. Seluruh siswa-siswi di sini juga wajib memakai tas dan sepatu yang disediakan sekolah. “Di sekolah lain mungkin kita bisa tampil gaya dengan tas yang unik atau yang ngejreng, tapi di sekolah kami tidak boleh. Semua disediakan oleh sekolah, jadi semua tas dan merek sepatu sama,” tandas Gek Rina.

Ditanya apakah hal itu tidak terasa lebih mengekang, Gek Rina dan beberapa kawannya mengaku kadang merasa bosan juga. “Sebenarnya sesekali kita ingin tampil atraktif dan lebih gaya, tapi mau apa lagi? Daripada distrap atau diomelin guru, lebih baik menahan perasaan saja,” demikian mereka.

Asal Jangan Lebay
Ungkapan yang lebih berani disampaikan oleh beberapa orang siswi dari SMAK Santo Yoseph Denpasar. Mereka mengatakan sudah tidak jamannya lagi untuk mengatur penampilan siswa-siswi dengan terlalu mendetail. “Jika dipikir-pikir, cara pandang yang diterapkan oleh sekolah-sekolah di negeri kita ini lebih banyak munafiknya. Terutama di sekolah-sekolah negeri, peraturan yang diterapkan untuk penampilan murid sering berebihan. Masak cincin, kalung sampai ikat rambut saja diatur. Ini sesuatu yang sudah tidak relevan lagi pada jaman seperti sekarang ini,” ujar mereka.

Pendapat beberapa siswi ini juga mendapat dukungan dari beberapa guru SMA yang sempat diwawancarai. Beberapa guru dari beberapa sekolah yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, sejatinya keberadaan tata tertib sekolah harus lebih ditekankan pada disiplin belajar-mengajar saja. Untuk urusan penampilan, itu adalah urusan norma. “Masak kita tidak percaya pada para murid? Mungkinkah para murid tidak mengerti norma? Tidak mungkinlah,” demikian beberap guru tersebut.

Menurut mereka, di alam yang sudah sangat demokratis saat ini, penampilan atau style seseorang tidaklah relevan lagi dijadikan penilaian yang terkait kecerdasan dan intelektualitas. “Kita sudah biasa melihat melalui film, para murid setingkat SMA di negeri maju tidak lagi diatur untuk cara berpakaian. Bahkan tidak ada seragam khusus. Sepanjang pada batas-batas norma yang berlaku secara universal atau umum, setiap murid dipersilahkan hadir dan tampil dengan gaya masing-masing. Sistem dan pola pendidikan yang diterapkan di lingkungan sekolah lebih menyentuh kepada pemberdayaan intelektualitas murid. Dan itu terbukti lebih efektif, buktinya mereka jauh lebih cerdas dari kita yang tiap hari hanya disibukkan protokoler seputar penampilan,” tandas mereka.

“Intinya asal jangan lebay atau berlebihan!” Demikian Dian. Ungkapan yang sama juga datang dari I Gusti Ayu Dian Andiana Pratiwi, siswi SMAN 2 Negara. “Memang sih, terkadang ada siswi yang coba-coba ingin tampil seksi ke sekolah dengan memakai rok lebih pendek dan baju sangat ketat. Yang begini memang kurang patut dan mereka biasanya langsung dicibir teman-teman. Akhirnya yang tampil begini juga malu dan berhenti sendiri. Bagi saya, walaupun tidak ada tata tertib, tampil seksi ke sekolah memamg tidak pantas. Modis dan seksi itu jauh bedanya,” demikian Pratiwi.

Akhirnya, jika dipikir-pikir tampil lebih gaya atau modis ke sekolah bukanlah sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Apalagi bagi para remaja SMA sederajat, keinginan untuk tampil lebih cantik dan ganteng adalah hal yang alamiah dan manusiawi. Sekali lagi, sepanjang itu pada batas norma umum, para siswi dan juga siswa ke sekolah dengan sedikit modis barangkali bisa membawa susana lebih belajar yang lebih bergairah. Jauh lebih baik daripada suasana belajar yang dibelenggu peraturan serba kolot, di mana akhirnya hanya kebosanan demi kebosanan yang dirasakan para murid. Dan bosan itu adalah pangkal malas, lalu malas adalah pangkal bodoh. Begitu katanya! Jangan lebay ah!

Teks: Nanoq da Kansas
Foto: De’a Yogantara

1 komentar:

silvimargaret mengatakan...

Selamat Siang, Ijin Post Yahh bossku
Tunggu Apalagi Segera Daftar dan Depositkan Segera Di E D E N P O K E R . X Y Z
- Minimal Deposit 15.000
- Bonus New Member 10.000
- Bonus Next Deposit 5%
- Bonus Rollingan 0,5%
- Bonus Refferal 10% (Seumur Hidup)
REAL PLAYER VS PLAYER !!!

Posting Komentar