berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

Tampilkan postingan dengan label Bali-Balian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali-Balian. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2010

Penguasa dan Rakyat Jelata dalam “Sejarah” Bali

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Balinese history is opaque and difficult to Western eyes. In addition to thorny problems involving dating, establishing the provenance and antiquity of manuscripts, and verifying data, Balinese history stretches our sense of what is credible. Historical narratives are filled with tales of magic, divine intervention in human affairs, and superhuman feats, which have generally been categorized as 'myth' by Western scholars; who, in various ways, conclude that the Balinese have no history, or that their sense of history is not “proper” (Mark Hobart).

Dari seorang teman di Denpasar, saya beruntung mendapat sebuah buku tipis bulukan dengan jilidan terlepas, terbitan Pemda Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1980. Buku yang ditulis oleh tim penyusun yang organisatoris-formal ini berjudul Sejarah Bali, diterbitkan untuk kepentingan bacaan penunjang pelaksanaan kurikulum SD 1975. Namun demikian, buku ini saya temukan di beberapa bibliografi buku-buku terkemuka tentang Bali.

Sejarah Bali dalam buku ini disusun melalui fase-fase dari masa prasejarah hingga sejarah. Masa sejarah dimulai dari periode 882-1343 yang terdiri atas Dinasti Singhamandawa dan Dinasti Warmadewa. Sedang berikutnya adalah periode 1343-1846, di mana diawali oleh ekspedisi Gajah Mada ke Bali hingga masa Kerajaan Klungkung. Selanjutnya adalah masa kolonial Belanda dan Jepang serta masa kemerdekaan (1945) dan penyerahan kedaulatan (1949).

Sejarah Kuasa
Dapat kita baca dalam lintasan apa yang dinamakan sejarah Bali di atas bahwa periodisasi sejarah didasarkan atas kuasa. Yang pertama ada kuasa dinasti raja, yang kedua kuasa penjajah, dan ketiga adalah kuasa pemerintah pusat. Kuasa raja dapat dilihat dari penyusunan yang didasarkan atas Dinasti Singhamandawa dan Dinasti Warmadewa serta kerajaan periode 1343-1846. Lalu kuasa penjajah ada pada Belanda dan Jepang serta juga pada ekspedisi Gajah Mada. Sedang kuasa pemerintah pusat dapat kita lihat pada momen kemerdekaan dan penyerahan kedaulatan yang mengikuti momen-momen yang merupakan putusan pemerintah pusat ketika itu. Lalu dalam konteks penerbitan buku itu, ditemukan lagi satu kuasa, yaitu pemerintah-- Pemda Propinsi Daerah Tingkat I Bali--ketika itu.

Intinya, penulisan buku itu didasarkan atas penarikan titik-titik sejarah “orang-orang kuat” yang masing-masing sinkronis, kemudian dihubungkan sehingga membentuk garis sejarah Bali yang diakronis. Dan kerja ini dilakukan pula oleh “orang-orang kuat”--dalam hal ini pemerintah--dengan berusaha menyusun sejarah yang saintifik, di mana didukung oleh bukti-bukti sejarah tertulis maupun artefak. Maka, jadilah sejarah Bali versi buku itu sebagai sejarah Bali yang “legitimate” atau “resmi”.

“Sejarah resmi” semacam ini kemudian disebarluaskan ke masyarakat untuk dipercayai dan dibenarkan. Lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah formal menjadi salah satu agen yang bonafit dalam proyek “pemercayaan” dan “pembenaran” dari “sejarah resmi” ini. Masyarakat jadi “tahu” tentang sejarah masa lalu mereka, walaupun belum tentu sebenarnya masa lalu mereka memang terpaut atau terlibat dalam “sejarah resmi” itu. Namun kuasa kemudian memaksakan suatu “kebenaran” dan “keyakinan” bahwa semua bagian dari masyarakat adalah bagian dari “sejarah resmi” itu. Dengan kata lain, masyarakat dipaksa untuk mempercayai bahwa itulah sejarah yang sebenarnya. Bukan yang lain.

Kecenderungan peradaban manusia selalu didominasi oleh orang-orang kuat dalam berbagai bidang kehidupan--politik, sosial, ekonomi, seni, agama dan sebagainya. Orang-orang kuat selalu memiliki tendensi penguasaan terhadap orang-orang lemah, wong cilik, rakyat jelata. Dan orang-orang lemah pun terkuasai, dalam arti mereka mengakui kekuasaan orang-orang kuat dan memujanya. Kalaupun ada semacam perlawanan atau pemberontakan atau kudeta dari orang-orang lemah, toh akhirnya akan muncul orang kuat baru dari orang-orang lemah itu yang akhirnya memiliki kuasa. Lihatlah Ken Arok. Ya, selalu ada alur yang sirkuler.

Sejarah Rakyat Jelata
Lalu di mana sejarah orang-orang lemah, wong cilik, rakyat jelata? Sepertinya cukup hidup di ingatan mereka dan terbawa mati seiring badan. Kalaupun hidup, ia menjadi cerita-cerita lisan yang hidup oleh oral traditons. Namun jika dilihat dengan seksama, oral traditons inilah “sejarah” masyarakat kecil, “which have generally been categorized as 'myth' by Western scholars”--seturut Hobart. Inilah sejarah yang orijinal dan otentik. Sejarah yang sangat Bali. Sejarah yang lebih membumi. Dan sejarah itu sekarang kita kenal dengan nama dongeng (satua), legenda, mitos, prosa rakyat atau folklor-folklor lainnya, serta yang “agak” memenuhi syarat “sejarah resmi” adalah babad.

Secara keilmuan (Barat!), folklor-folklor yang lahir dari oral traditons itu memang ditolak dari kategorisasi sejarah. Namun jika dilihat dengan seksama, dalam folklor-folklor itu dapat dibaca sejarah karateristik orang Bali, khususnya masyarakat kecil yang jauh dari prestise palsu, tanpa tendensi menguasai, jauh dari ritual kewibawaan yang cuma teater--sebagaimana pembacaan Clifford Geertz dalam Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali.

Kalau berbicara tentang babad, barangkali ia masih memiliki posisi tawar yang lumayan bergengsi di mata “sejarah resmi” karena ia memang memiliki anasir serta struktur yang dekat dengan “sejarah resmi”. Babad Dalem, misalnya, menjadi sumber besar penulisan sejarah Bali yang dikenal sekarang. Dan hal ini ternyata sedikit-banyak tidak bisa dilepaskan dari kuasa. Banyak babad disusun untuk mengabadikan tokoh-tokoh kuat, tokoh-tokoh yang memiliki kuasa, baik dari suatu klan, aliran kepercayaan atau yang lainnya.

Namun jangan lupa pula bahwa kuasa juga masih memiliki taring dalam “sejarah” masyarakat kecil yang terdapat dalam folklor-folklor lisan. Lihatlah, banyak dongeng atau legenda yang tidak melepaskan kisahnya dari kisaran kerajaan atau kuasa raja. Barangkali kita masih harus mengakui bahwa sejarah hanyalah milik para penguasa. Karena dalam “logika” kekuasaan, rakyat kecil dilarang punya sejarah!

Ilustrasi: REPRO
Selengkapnya...

10 Juli 2010

Membaca Bali dari Candi Sukuh

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Banyak ahli seni yang menyebut wayang kulit Bali memiliki bentuk yang lebih sederhana dibandingkan dengan wayang kulit Jawa yang lebih rumit dan memiliki stilisasi bentuk yang mengarah ke perkembangan dari bentuk sederhana. Mengapa hal ini bisa terjadi, padahal wayang kulit Bali juga memiliki akar pada wayang kulit Jawa (pada masa yang lebih kuna)? Jawabannya tentu saja perkembangan. Namun perkembangan yang macam apa? Beberapa argumen mengatakan bahwa wayang kulit Jawa mengalami perkembangan yang pesat dan kompleks, baik secara bentuk, lakon dan filsafatnya pada masa pengaruh Islam. Sedangkan wayang kulit Bali yang tetap berada di bawah kultur Hinduisme, tidak mengalami perkembangan sebagaimana sejawatnya di Jawa. Saya sendiri baru saja mendapat jawaban (yang masih kabur) tentang perbedaan ini, setelah berkunjung ke Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh: Kembali ke Jiwa “Primitif” yang “Kasar”
Jika kita melihat bentuk umum candi-candi di Jawa, maka ketika melihat Candi Sukuh sebagai candi Hindu, kita akan disuguhi bentuk candi yang “aneh”. Seakan ia tidak bisa dilacak dari arsitektur kebudayaan Hindu. Bentuknya yang berupa piramida, lebih mengingatkan kita pada kebudayaan Mesir, Meksiko, Peru atau Polynesia.

Candi Sukuh diperkirakan dibangun antara tahun 1416 dan 1459, yaitu pada masa akhir kejayaan Hinduisme di Jawa. Yang menarik, candi ini justru dibangun jauh dari pusat peradaban Hindu ketika itu, yaitu Majapahit di Jawa Timur. Ia malah lebih dekat dengan pusat Hinduisme sebelumnya, yaitu Mataram Lama di Jawa Tengah, pada sekitar abad ke-9. Dugaan yang beredar adalah bahwa candi ini dibangun oleh orang-orang yang menyingkir dari Majapahit karena kerajaan itu telah dikalahkan oleh Demak. Kita tahu bahwa ketika itu pula ada eksodus orang-orang Majapahit ke Bali, yang mana kini menjadi nenek moyang sebagian besar orang Bali.

Secara garis besar, Candi Sukuh dilingkupi dengan simbol-simbol besar lingga-yoni. Di lantai gerbang masuk utama, lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan) digambarkan dengan gamblang dan cenderung bergaya realis. Pada beberapa relief dan arca, alat kelamin (terutama laki-laki) digambarkan dengan vulgar dan cenderung dibesar-besarkan. Simbol lingga-yoni sering dibaca sebagai simbol kesuburan. Saya jadi teringat sebuah relief yang menggambarkan persenggamaan yang terpahat di Pura Maduwe Karang, Singaraja.

Dari relief-relief yang ada di Candi Sukuh, terbaca tiga cerita besar, yaitu “Garudeya”, “Sudamala” dan “Dewaruci”. “Garudeya” bercerita tentang burung garuda yang menyelamatkan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan dengan mencuri tirta amerta dari para dewa. Sadewa meruwat Dewi Durga hingga kembali menjadi Dewi Uma dalam cerita “Sudamala”. Dan Bima mencari tirta amerta di dasar samudera, hingga ia menemukan “dirinya sendiri”, yaitu Dewaruci. Dari cerita ini muncul dugaan besar bahwa Candi Sukuh merupakan candi yang digunakan untuk ritual-ritual ruwatan atau penyucian.

Dari segi arsitektural, Candi Sukuh diduga dibangun dengan menyalahi pola dari kitab tentang arsitektur Hindu, yaitu Wastu Widya. Dalam kitab ini konon dijelaskan tentang bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengah, yang merupakan wilayah paling suci. Argumen yang kemudian muncul adalah, candi ini dibangun pada masa pudarnya kejayaan Hindu di Jawa, sehingga bentuk-bentuk yang lebih mengemuka kemudian justru dari kebudayaan yang lebih kuno dan arkaik, yaitu masa megalitik.

Argumen ini dapat kita buktikan jika melihat bentuk-bentuk yang tergambar pada arca dan relief di kompleks candi. Figur-figur yang tergambar dari pahatan batu itu terlihat lebih “kasar” dan “primitif” dibandingkan dengan berbagai figur yang terpahat pada batu-batu candi yang dibangun berabad-abad sebelumnya, seperti Prambanan dan Borobudur. Adakah ini menunjukkan bahwa Candi Sukuh merupakan sebuah refleksi kembalinya jiwa “primitif” manusia setelah mengalami masa kejayaan?

Kuatnya pengaruh budaya megalitik juga terlihat pada jalan batu yang memanjang lurus dari gerbang utama hingga menuju pintu masuk candi. Jalan batu seperti ini menurut para ahli sangat jarang ditemukan pada candi-candi umumnya di Jawa. Model jalan seperti ini hanya bisa ditemukan pada bangunan-bangunan suci prasejarah megalitik. Di Bali, jalan batu seperti ini terdapat di Desa Trunyan. Orang Trunyan menyebutnya dengan nama Jalan Batu Gede, yang menurut legenda dibangun oleh Kebo Iwo.

Namun, “keanehan” yang muncul ketika melihat Candi Sukuh barangkali bisa ditepis ketika kita naik ke puncaknya yang berupa dataran batu. Di tengah-tengah lantai batu itu bisa kita lihat batu berbentuk segi empat yang agaknya merupakan sendi, dasar atau tempat meletakkan atau menancapkan tiang kayu suatu bangunan. Dari sini muncul dugaan bahwa di atas piramida itu barangkali ada lagi bangunan tertentu dari bahan yang tidak tahan usia, seperti dari kayu, yang agaknya telah hancur. Jika benar demikian, maka candi yang berbentuk piramida sekarang ini hanyalah sebuah dasar yang lebih mirip punden berundak, prototipe dari candi-candi di Jawa. Hal ini barangkali mirip dengan bangunan palinggih di Bali, di mana bagian baturan-nya dibuat dari batu atau bata, sedangkan bagian palinggih atasnya terbuat dari kayu.

Bali Kini di Candi Sukuh
Jika benar Candi Sukuh dibangun oleh orang-orang yang eksodus dari Majapahit setelah keruntuhan kerajaan itu, maka mereka adalah sejawat dengan orang-orang yang juga meletakkan pengaruh budaya Majapahit di Bali. Ilustrasi saya tentang perbandingan wayang kulit Jawa dan Bali di awal tulisan ini barangkali bisa dijadikan argumen.

Pada relief-relief di Candi Sukuh ditemukan figur-figur yang sangat mirip dengan bentuk tokoh Tualen dan Merdah, keduanya adalah tokoh parekan atau punakawan dalam wayang kulit Bali. Figur-figur ini ditemukan bukan hanya satu-dua, namun banyak sekali. Jika kita menyimak kisah yang digambarkan relief, tampak jelas bahwa figur-figur ini dekat dengan peran parekan, yaitu pengiring tokoh utama. Figur-figur semacam ini tidak ditemukan dalam wayang kulit Jawa. Tokoh Semar dalam wayang kulit Jawa yang sering diidentifikasi sebagai Tualen dalam wayang kulit Bali, pada dasarnya tak memiliki kemiripan bentuk.

Candi Sukuh juga banyak menghadirkan figur Bima. Salah satu dugaan mengatakan bahwa candi ini memang dibangun untuk memuja Bima. Figur-figur Bima yang digambarkan pahatan batu di sini lebih dekat dengan bentuk tokoh Bima dalam wayang kulit Bali dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Bima dalam wayang kulit Bali digambarkan cenderung kecil dan proporsional. Sedangkan dalam wayang kulit Jawa, Bima berbentuk sangat tinggi, dengan tangan yang panjang. Selain itu, ada pula sebuah relief kepala raksasa yang bentuknya mirip dengan Barong Ket di Bali.

Candi Sukuh sebagai salah satu produk budaya Hindu yang unik barangkali bisa dijadikan salah satu refleksi untuk membaca Bali kini. Dari sini kita bisa membaca sejauh mana sebenarnya kita telah bergerak dan sejauh mana kita melenceng dari jalan yang dirintis oleh para leluhur kita.

Foto: Candi Sukuh dilihat dari depan. Tampak bentuknya yang piramidal serta jalanan batu di pelatarannya.
Selengkapnya...

Tradisi yang Bersahabat dengan Bencana Alam

Oleh: Ibed Surgana Yuga

April 1815 Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus demikian dahsyat, menelan tiga kerajaan di sekelilingnya. Dengan kedahsyatan ledakan empat kali Gunung Krakatau, Tambora memuntahkan awan tebal dari perutnya dan membumbung hingga stratosfer bumi, lalu bahkan langit Eropa pun tertutup olehnya, lalu sinar matahari tak kuasa menembusnya, lalu berbagai keragaman hayati rusak dan musnah, lalu gagal panen, lalu kelaparan di Irlandia, Jerman, dan kota-kota lain di Eropa, lalu tifus.

Usaha penggalian terhadap sisa-sisa ledakan Tambora dilakukan para ahli untuk menemukan dan mempelajari peradaban macam apa yang telah ditelan muntahan gunung api ini. Diharapkan Situs Tambora hasil galian ini akan bisa dijadikan objek wisata dunia, sebagaimana Situs Pompeii di Napoli, Italia, yang sebelumnya merupakan sebuah kota tua zaman Romawi kuno yang terkubur letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79.

Sementara ditemukan bahwa ledakan Tambora telah menyebabkan hilangnya peradaban Sumbawa ketika itu, yang diperkirakan berbeda dengan peradaban Sumbawa sekarang. Manusia Sumbawa sekarang bukanlah keturunan manusia Sumbawa sebelum Tambora meletus. Ketika itu, menurut tim ilmuwan University of North Carolina, peradaban Sumbawa lebih mirip dengan Indocina.

Demikianlah, bencana alam telah melenyapkan kompleksitas peradaban manusia dalam suatu wilayah geografis dan budaya. Di masa sekarang kita harus mempelajari mereka dengan begitu susah payah, melalui penggalian sisa-sisa peradaban, berupa artefak atau kerangka manusia. Tentu berbeda dengan jika kita mempelajari peradaban masa lalu dengan manusia-manusia keturunannya yang masih ada.

Ketika kesadaran tentang hal itu ada, manusia kemudian mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana alam dengan berbagai macam teknologi, baik modern maupun pra-modern. Bunker dibangun untuk menyelamatkan manusia dari kepungan lahar letusan gunung, ada seismograf untuk merekam aktivitas gunung berapi, ada pendeteksi gempa, bahkan pedeteksi tsunami. Setelah bencana gempa di Aceh dan Jogja, mulai tumbuh kesadaran, atau paling tidak pengetahuan, tentang bangunan tahan gempa.

Tahun 1815 di Indonesia dan tahun 79 di Italia agaknya belum ada teknologi yang bisa membaca tanda-tanda akan letusan gunung berapi. Bolehlah kita sekarang bersyukur karena telah memiliki teknologi macam itu, yang karenanya berbagai tindakan pencegahan akibat bencana letusan gunung dapat dieksekusi. Karenanya, kita punya kesempatan untuk mengungsi, menyelamatkan beberapa harta benda yang mungkin, menjauhkan nyawa kita dari ancaman bencana yang mematikan. Karenanya, kita masih punya kemungkinan untuk menyelamatkan (beberapa bagian, kalau tidak bisa keseluruhan) peradaban kita.

Bencana alam adalah keniscayaan, terlepas dari apa pun penyebabnya. Tak jarang, sekeras apa pun usaha kita untuk menghindarinya, ia tetap saja datang menerjang. Tak peduli kita tengah gencar menghujat perilaku manusia perusak alam atau bahkan ketika khusyuk berdoa. Maka, di samping berbagai usaha pencegahan terjadinya bencana alam, kita semestinya memiliki kesadaran tentang keniscayaan bencana alam. Berbagai usaha pencegahan atas terjadinya maupun pencegahan akan akibat bencana alam didasari dengan kesadaran yang demikian.

Pada suatu titik kesadaran, kita akan sampai pada penarikan bencana alam ke dalam ranah tradisi kehidupan atau peradaban kita. Kita menyiapkan, merancang, dan mengeksekusi berbagai agenda sadar bencana alam yang kemudian ditradisikan. Kita mentradisikannya sebagaimana kita membuat atap rumah karena sadar akan keniscayaan turunnya hujan, atau sebagaimana tradisi mandi yang muncul dari kesadaran akan kotoran yang niscaya melekati tubuh kita.

Banjir yang terjadi hampir di sebagian wilayah Indonesia, merendam hampir seluruh Jawa, akhir-akhir ini mestinya bisa disikapi dengan kesadaran yang demikian sejak lama. Apalagi banjir ini telah menjadi agenda tahunan alam di Indonesia. Bali pun tak luput dari rendaman banjir. Beberapa daerah pariwisata dikepung. Konon turis-turis dibuat mangkel olehnya.

Ternyata, tata kota, terutama tata keairan, tidak punya visi dalam mengantisipasi kedatangan bencana alam semacam banjir. Para perancang tidak punya kesadaran akan bencana alam yang sangat mungkin dimasukkan ke dalam tradisi merancang berbagai tata bangunan. Barangkali semuanya dirancang dan dibangun untuk menghadapi situasi normal. Padahal kalau mau berpikir lebih mendalam, banjir pun sebenarnya adalah keadaan normal. Belum ada indikasi sebuah visi pembangunan untuk mengantisipasi kenormalan yang kadang-kadang terjadi, seperti banjir.

Kesadaran memang telah ada tentang kerusakan hutan (yang malah terus dirusak) sehingga memunculkan gerakan penanaman kembali. Namun ini perlu waktu yang lama. Menunggu bibit-bibit yang ditanam sehingga tumbuh menjadi pohon besar itu lebih lama dibandingkan membangun tata beton-beton yang punya visi menanggulangi kedatangan banjir. Dengan kata lain, realisasi pembangunan yang mempunyai kesadaran akan banjir sangat mendesak.

Sepertinya, banyak dari kita yang tidak banyak belajar dari peradaban masa lalu yang kelihatannya remeh. Sering kali peradaban masa lalu hanya dikagumi kemegahannya, keunikannya, kemudian dideskripsikan sedemikian rupa untuk kalangan umum, termasuk kalangan luar negeri, sehingga dapat mendatangkan masukan melalui dunia pariwisata, atau ujung-ujungnya masuk museum dan membeku di sana.

Rumah panggung orang Loloan yang dibangun di sepanjang daerah aliran Tukad Ijogading, misalnya. Arsitekturnya dibangun dengan meninggikan lantai sedemikian rupa dengan sokongan tiang-tiang kayu nan kokoh, sehingga menyerupai panggung. Kita bisa menerka fungsi arsitektur macam ini di antaranya untuk menghindari serangan binatang buas ke dalam rumah atau untuk mengantisipasi luapan air Tukad Ijogading di saat musim hujan. Inilah contoh “kecil” yang cerdas dalam mentradisikan berbagai ide tentang antisipasi bencana alam.

Mentradisikan dan merealisasi ide tentang antisipasi bencana alam pada satu titik akan sampai memberi pemahaman bahwa banjir, misalnya, pada suatu ketika tidak dianggap sebagai bencana. Ia mewujud sebagai sahabat yang mesti disapa dengan tradisi, kebudayaan, peradaban.
Selengkapnya...

Pemimpi(n)

Gemuruh “pesta demokrasi” (untuk konteks mutakhir, barangkali lebih tepat disebut “perayaan para politikus”) pemilihan Bupati Jembrana--yang entah akan meledak atau cuma meletup kecil dan lalu dilupakan--terdengar sudah. Mereka yang bermimpi menjadi pemimpin (baca: tengah menjadi pemimpi) bergerak mencari pasangan. Strategi politik berjalan (berbanding lurus dengan berjalannya demokrasi?).

Saya tiba-tiba tergerak untuk menulis tentang kisaran gemuruh itu. Latah dan gagap, barangkali. Tapi biarlah. Toh saya juga bagian dari rakyat, yang sering kali nanti hanya mendapat remah-remah pesta itu.

Siapa pun yang akan menjadi Bupati Jembrana nanti harus diterima sebagai keniscayaan bahwa dialah pilihan “rakyat”. Ya, “rakyat”! Bukan rakyat! Bukan pula Rakyat (dengan “R”)! Karena apa yang disebut “rakyat” atau “pemilih” dalam pesta ini bukanlah sesuatu yang an sich. Bukan pula rakyat sebagaimana yang dimaksud jargon vox Populi vox Dei. Ia adalah topeng yang barangkali cuma penampakan maya semata, yang di belakangnya berjubel kepentingan-kepentingan yang saling mempengaruhi, saling silang, tarik ulur, chaos. Dengan demikian “rakyat” adalah inang yang telah kehilangan keinangannya karena terkontaminasi parasit-parasit, namun masih banyak yang mengakui bahkan mengamini bahwa ia tetaplah inang, bahkan Inang.

Maka ketika hari H pesta berlangsung, di mana “rakyat” akan menentukan pilihannya, termasuk menentukan untuk tidak memilih salah satu dari sekian calon, sikap “rakyat” sangat ditentukan oleh pertarungan kepentingan-kepentingan di balik dirinya. Mengingat pertarungan itu terus berlangsung, yang menang tadi bisa kalah kemudian dan begitu seterusnya, maka momenlah yang menentukan sikap “rakyat” untuk memilih dan tidak memilih yang mana. Momen itu mungkin hanya dalam hitungan menit. Di sinilah seorang calon pemimpin harus memberlakukan strategi pemengaruhan yang bisa mengena saat hari H.

“Pesta Demokrasi”, Pesta Para Pemimpi
“Pesta demokrasi”, seperti pemilihan bupati, pada dasarnya adalah suatu proses pewujudan mimpi. Mimpi untuk menjadi pemimpin dan mimpi memiliki pemimpin yang benar-benar mampu memimpin. Ini “ideal”-nya. Namun kondisi mutakhir menunjukkan “ketidakidealan”. Kita tahu ini. Namun keakutan yang sedemikian rupa dan kompleks sering mengantar kita pada ketidaksadaran akannya.

Mimpi bukan sekadar masa depan yang dibayangkan. Mimpi adalah konstruksi yang sebenarnya demikian riil jika yang memimpikan mau dengan jujur mengakuinya. Mimpi juga tidak pernah bisa jauh dari kepentingan-kepentingan, minimal kepentingan akan mimpi itu sendiri. Karena memang kepentinganlah yang menjadi salah satu syarat untuk bisa memimpikan mimpi. Mimpi juga bisa demikian terpaut dengan masa lalu dan sekarang, dan sebaliknya bisa hadir dengan hentakan keras untuk menolak hantu masa lalu, bahkan yang sekarang--di mana mimpi sedang dipijakkan.

Maka jika seorang kandidat pemimpin memimpikan kondisi saat ia menjadi pemimpin nanti, tentu saja kepentingan-kepentingan tidak bisa dilepaskan dari konstruksi mimpinya. Entah itu kepentingan dalam tataran pribadi maupun komual.

Sebuah pidato Presiden Lincoln tentang alasan mengapa Amerika Serikat harus berdiri adalah bahwa Amerika Serikat adalah sebuah bangsa baru, yang dibuahi dalam kemerdekaan, dan dipersembahkan untuk cita-cita bahwa semua manusia diciptakan sama. Mimpi Lincoln yang berefleksi pada masa lalu ini, bahkan lebih jauh pada sejarah kemanusiaan, kemudian menjadi salah satu alasan perang melawan sejumlah kekuatan separatis di beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Barangkali ketika itu Lincoln tidak menemukan jalan lain selain perlawanan dengan perang (kekerasan), sehingga mimpinya sebagai pemimpin yang dalam konteks ini merupakan mimpi naluri kemanusiaan komunal, harus diwujudkan dengan melancarkan kekerasan terhadap manusia lainnya. Ada pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan yang lebih mulia barangkali di sini, ketika manusia harus dijejali dengan kekerasan demi kemanusiaan (yang lain).

Namun kemanusiaan adalah semacam tujuan akhir dari mimpi. Jika penggapaian mimpi harus mengorbankan beberapa sisi darinya, mimpi itu harus mewujud untuk kemanusiaan itu sendiri pada sisi lainnya yang lebih luas.

Kemenangan sebagai “Kekalahan yang Lain”
Dalam sekian panjang narasi sejarah manusia, hampir selalu ada korban untuk menggapai mimpi, sebagaimana hampir selalu ada kalah untuk mencapai menang. Dan kemenangan pun bukan akhir dari narasi, bukan the end of story. Mimpi pun bukan akhir dari tidur. Selalu ada kisah lanjutan dari kemenangan, dari mimpi yang telah digenggam, yang sering bukan menjadi kisah kemenangan terus-menerus, bukan mimpi indah yang berkepanjangan, namun semacam “titik balik” dari kemenangan atau mimpi indah itu sendiri. Ia adalah semacam “kekalahan yang lain”. Ada pula yang berupa bayang-bayang hitam masa lalu, yang sebelumnya--barangkali dalam proses pencapaian mimpi--dengan sengaja atau tidak ditenggelamkan, yang muncul kembali dengan diam-diam tapi pasti di tengah-tengah sorak-sorai kemenangan, di tengah ketenangan dan senyum manis mimpi indah.

Begitulah Oedipus, seorang tokoh dalam mitologi Yunani, ketika di tengah ketenangannya menduduki takhta Kerajaan Thebes ia menerima kenyataan bahwa ia telah membunuh ayahnya, Raja Thebes sebelumnya, dan menikahi ibunya, Jocasta, yang menjadi permaisurinya. Jika Oedipus adalah tipe pemimpin yang menafikan begitu saja masa lalunya, atau manusia yang berkhianat terhadap sejarah kemanusiaannya, maka tentu saja ia akan mungkir dari tuduhan tersebut dan melanjutkan pendudukan terhadap takhtanya. Mungkin ia akan menolak ramalan nasibnya, takdir yang telah ditetapkan dewa semenjak kelahirannya, dan mencari apologi serta berbagai pembenaran yang kemudian dimahfumkan kepada rakyatnya, sehingga ia dapat dengan leluasa lagi memerintah Thebes tanpa ancaman dari mana pun, bahkan dari para dewa.

Tapi Oedipus tidak memilih itu. Ia memilih mencungkil kedua bola matanya. Turun takhta. Lalu mengasingkan diri bersama kebutaannya di Kolonus hingga wafat.
Selengkapnya...