Siang itu, Gede Putu sedang beristirahat di rumahnya. Dia terlihat cukup lelah setelah seharian berkutat pada dunia sampah. Berangkat dari rumah pukul 06.00 pagi hingga siang hari, ia melakukan kegiatan rutinnya mengangkut sampah dari 47 rumah tangga yang menjadi pelanggannya di kawasan Banjar Satria, Negara.
Di sebuah pondok kecil, ia dibantu istrinya, Ni Made Sukerti, mempersiapkan peralatan sebelum mereka masing-masing berangkat bekerja. Sederhana, itulah kesan pertama yang terlihat dari sosok Pak Gede Putu, demikian ia biasa dipanggil oleh para tetangganya. Lelaki ini adalah sosok yang telah menjadi panutan bagi masyarakat sekitar, karena di balik keuletannya ia telah banyak memberikan inspirasi bagi siapa saja untuk lebih mencintai pekerjaan, apapun itu.
Gede Putu menjadi pengangkut sampah sejak tahun 1982. Saat itu ia bekerja sebagai tenaga honorer di Pemkab Jembrana. Ia menuturkan, bahwa pertama kali memutuskan bekerja di dunia sampah yang notabene jorok dan kotor, adalah karena keinginannya untuk berbuat benar di hadapan keluarganya. “Pada saat itu belum ada program KB. Jadi anak saya banyak sementara saya hanya bekerja serabutan dan lebih banyak nganggur. Lalu saya bertekad untuk bekerja apapun. Saya berprinsip, walaupun anak banyak yang penting saya bisa menghidupi mereka dengan layak,” tuturnya.
Pria paruh baya yang tidak pernah diam ini, seringkali merasa heran dengan dirinya sendiri. “Yang namanya libur tidak pernah ada dalam kamus hidup saya. Dalam satu tahun, hari libur saya hanya tiga hari saja, yakni pada hari raya Nyepi, Galungan dan Kuningan. Selebihnya saya tetap bekerja walaupun sakit,” katanya.
Kalau saya sakit, imbuh Gede Putu, dirinya tidak pernah perduli. Yang penting kedua kaki ini bisa melangkah, pekerjaan itu tetap saya kerjakan dengan tanggung jawab. Jika sakit panas, seringkali panas tinggi itu hanya di kompres pakai daun jarak, dengan cara ditempel di dahi lalu di tutup dengan topi,” kenangnya. “Sehari saja saya libur, sampah-sampah di perumahan akan menumpuk dan pekerjaannya akan lebih berat lagi,” terangnya.
Ayah tujuh anak yang hobi jalan kaki dan mencintai kebersihan ini, kini hanya mampu memberikan pelayanan maksimal bagi 40-an pelanggan. Tidak seperti tahun-tahun lalu yang bisa mencapai 150 lebih pelanggan. Selain memberikan pelayanan terbaik bagi pelannggannya, Putu Gede tak henti-henti memberi motivasi hidup kepada ketujuh anaknya. “Yang terpenting adalah semuanya harus berpendidikan. Sekarang saya sudah tidak kuat bekerja seperti dulu lagi. Saya sudah tua dan tenaga saya jauh berkurang,” ujarnya.
Ya, usia tua memang telah menyapa hidup Pak Gede Putu. Namun di hari tuanya ini, bolehlah ia berbangga. Ketujuh anaknya semua bisa bersekolah sampai SMA. Dan kini putra keenamnya, I Ketut Agus Suwitra, bahkan meneruskan pendidikan di perguruan tinggi negeri di Denpasar.
Ketika ditanya suka duka selama menggeluti dunia sampah ini, lelaki yang sering membuat temannya ini merasa geli mengatakan, bahwa lebih banyak dukanya. “Wah, dukanya lebih banyak. Yang jelas setiap hari saya harus kotor, jorok, dan mencium bau busuk dari sampah-sampah itu hehehe...,” ujarnya tertawa. “Tapi yang paling membuat tetangga saya geli adalah bahwa saya sering tidak ingat urutan kelahiran anak-anak saya. Mungkin karena setiap hari jarang di rumah, saya lupa kalau ditanya urutan kelahiran anak-anak saya,” tambahnya lagi dengan tawa yang lebih keras.
Ya, dalam kesederhanaan dan keuletannya, Pak Gede Putu memang lugu. Dan yang jelas, kendati ia hanya seorang pemungut sampah, ia pantas berbangga dan menjadi inspirasi bagi para tetangga dan keluarganya.
Teks & Foto : Dea Yogantara
Di sebuah pondok kecil, ia dibantu istrinya, Ni Made Sukerti, mempersiapkan peralatan sebelum mereka masing-masing berangkat bekerja. Sederhana, itulah kesan pertama yang terlihat dari sosok Pak Gede Putu, demikian ia biasa dipanggil oleh para tetangganya. Lelaki ini adalah sosok yang telah menjadi panutan bagi masyarakat sekitar, karena di balik keuletannya ia telah banyak memberikan inspirasi bagi siapa saja untuk lebih mencintai pekerjaan, apapun itu.
Gede Putu menjadi pengangkut sampah sejak tahun 1982. Saat itu ia bekerja sebagai tenaga honorer di Pemkab Jembrana. Ia menuturkan, bahwa pertama kali memutuskan bekerja di dunia sampah yang notabene jorok dan kotor, adalah karena keinginannya untuk berbuat benar di hadapan keluarganya. “Pada saat itu belum ada program KB. Jadi anak saya banyak sementara saya hanya bekerja serabutan dan lebih banyak nganggur. Lalu saya bertekad untuk bekerja apapun. Saya berprinsip, walaupun anak banyak yang penting saya bisa menghidupi mereka dengan layak,” tuturnya.
Pria paruh baya yang tidak pernah diam ini, seringkali merasa heran dengan dirinya sendiri. “Yang namanya libur tidak pernah ada dalam kamus hidup saya. Dalam satu tahun, hari libur saya hanya tiga hari saja, yakni pada hari raya Nyepi, Galungan dan Kuningan. Selebihnya saya tetap bekerja walaupun sakit,” katanya.
Kalau saya sakit, imbuh Gede Putu, dirinya tidak pernah perduli. Yang penting kedua kaki ini bisa melangkah, pekerjaan itu tetap saya kerjakan dengan tanggung jawab. Jika sakit panas, seringkali panas tinggi itu hanya di kompres pakai daun jarak, dengan cara ditempel di dahi lalu di tutup dengan topi,” kenangnya. “Sehari saja saya libur, sampah-sampah di perumahan akan menumpuk dan pekerjaannya akan lebih berat lagi,” terangnya.
Ayah tujuh anak yang hobi jalan kaki dan mencintai kebersihan ini, kini hanya mampu memberikan pelayanan maksimal bagi 40-an pelanggan. Tidak seperti tahun-tahun lalu yang bisa mencapai 150 lebih pelanggan. Selain memberikan pelayanan terbaik bagi pelannggannya, Putu Gede tak henti-henti memberi motivasi hidup kepada ketujuh anaknya. “Yang terpenting adalah semuanya harus berpendidikan. Sekarang saya sudah tidak kuat bekerja seperti dulu lagi. Saya sudah tua dan tenaga saya jauh berkurang,” ujarnya.
Ya, usia tua memang telah menyapa hidup Pak Gede Putu. Namun di hari tuanya ini, bolehlah ia berbangga. Ketujuh anaknya semua bisa bersekolah sampai SMA. Dan kini putra keenamnya, I Ketut Agus Suwitra, bahkan meneruskan pendidikan di perguruan tinggi negeri di Denpasar.
Ketika ditanya suka duka selama menggeluti dunia sampah ini, lelaki yang sering membuat temannya ini merasa geli mengatakan, bahwa lebih banyak dukanya. “Wah, dukanya lebih banyak. Yang jelas setiap hari saya harus kotor, jorok, dan mencium bau busuk dari sampah-sampah itu hehehe...,” ujarnya tertawa. “Tapi yang paling membuat tetangga saya geli adalah bahwa saya sering tidak ingat urutan kelahiran anak-anak saya. Mungkin karena setiap hari jarang di rumah, saya lupa kalau ditanya urutan kelahiran anak-anak saya,” tambahnya lagi dengan tawa yang lebih keras.
Ya, dalam kesederhanaan dan keuletannya, Pak Gede Putu memang lugu. Dan yang jelas, kendati ia hanya seorang pemungut sampah, ia pantas berbangga dan menjadi inspirasi bagi para tetangga dan keluarganya.
Teks & Foto : Dea Yogantara
0 komentar:
Posting Komentar