berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

10 Juli 2010

Windi; Apa Adanya, tapi Tak Seadanya!

Malam itu, di aula kampus bawah Undiksha Singaraja, Windi duduk dengan kaki berjuntai di bibir panggung. Celana jeans hitam ketat, t-shirt putih berbalut jaket yang terkadang dipakai menutup kepalanya. Tanpa alas kaki. Tangan kanannya memainkan rainstick, sementara tangan kirinya memegang mike. Ya, malam itu, Si Hitam Manis alumni SMA Negeri 2 Negara ini sungguh memuaskan penonton dengan suara beratnya yang sedikit serak. Membawakan tiga buah lagu dengan posisi sebagai vokal utama, sekaligus sebagai backing vokal untuk delapan lagu berikutnya, dia sama sekali tak tampak lelah. Bahkan ketika penonton yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, budayawan serta para pelajar meminta tambahan lagu kepada Kelompok Pesaji yang melakukan pentas bertajuk Teraphy Concert malam itu, Windi kembali “diperintah” kawan-kawannya untuk tampil solo sekaligus menutup konser.

Di kesempatan lain, di panggung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar, Windi bermandikan cahaya spotlight warna-warni. Tubuhnya terbalut kostum adat Bali yang dimodifikasi ibunya sendiri. Tetapi sebuah lagu tetap dibawakannya dengan suara berat dan serak. Hanya saja kali ini matanya sedikit redup. “Saya lelah sekali menunggu giliran pentas kali ini. Lebih lelah duduk menunggu daripada saya nyanyikan seratus lagu,” ujarnya.

“Saya memang lebih suka tidak diatur-atur soal penampilan dan kostum pentas. Saya percaya bahwa seni, khususnya pentas musik, tak selalu harus diatur sampai ke tetek bengeknya. Saya jenis orang yang akan mumet kalau terlalu diminij. Saya punya komitmen, tampil apa adanya tetapi tidak seadanya!” Demikian dara kelahiran 27 April 1992 ini.
Windi Kristina Andari, demikian nama lengkapnya, membuat orang kian percaya bahwa sebuah lagu adalah sebuah suara hati. Windi tidak sebatas menghayati syair dan nada lagu, tetapi dia mampu menciptakan kembali sebuah harmoni baru dari setiap lagu yang dibawakannya. “Ah, nggak juga! Saya hanya bernyanyi dengan sungguh-sungguh. Itu saja! Saya tidak punya kemampuan lebih. Dan selama ini saya lebih mengikuti bakat alamiah yang ada pada diri saya,” dia menampik pujian.

Soal bakat alam, memang itulah Windi. Telah berani menyanyi di panggung dengan grup-grup band sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Di masa kanak-kanaknya itu putri pertama dari pasangan Tri Widodo HS dan Mike Yanet Ngelo ini sudah seringkali “dipinang” untuk menjadi vokalis tamu di Imperial Band – salah satu grup band yang cukup eksis di Jembrana. Dan seiring waktu, Windi pun tiada henti mengoleksi sederet piala dan penghargaan dari berbagai festival musik di tingkat kabupaten maupun provinsi sejak dari sekolah dasar hingga kini di SMA.

Windi mengakui, bermusik dan bernyanyi di band-band pop maupun ikut berbagai festival, belumlah bisa memenuhi hasrat seninya dalam bidang musik. Itulah sebabnya dia mengaku senang bukan main ketika ditawari bergabung dengan Kelompok Penyanyi Sakit Jiwa, sebuah kelompok musik kreatif di Jembrana yang berdedikasi pada musikalisasi puisi dan lagu-lagu jalanan. “Gak percaya rasanya ketika dulu saya diajak bergabung di Pesaji. Saat itu saya baru saja selesai ujian akhir SMP. Dan bagi saya saat itu, orang-orang Pesaji sungguh jauh dari jangkauan anak remaja macam diri saya. Mereka adalah orang-orang gila dalam musik dan seni pada umumnya, tetapi kegilaan mereka adalah kegilaan untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan secara apa adanya. Mereka tidak berorientasi pada musik sebagai industri, tetapi musik adalah kesediaan untuk berbagi dengan siapa saja. Saya bahagia ikut Pesaji,” demikian Windi berapi-api.

Satu hal lagi yang menurut Windi sangat berharga dalam proses kreatifnya, adalah dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Kebebasan sekaligus kepercayaan sepenuhnya dari orang tuanya, bagi dara penggemar berat Anggun C. Sasmi ini, bukanlah sekedar dukungan. “Bagi saya, apa yang dilakukan orang tua saya atas kreativitas saya di musik selama ini bahkan adalah sebuah pembelaan kepada seni musik itu sendiri dan pembelaan atas talenta yang saya miliki. Saya bersyukur sekali atas semua ini!” Demikian Si Ceriwis (jangan marah Win, ya...) yang di awal tahun 2010 ini dua kali lolos pra-seleksi Indonesia Idol, (Windi lolos pra-seleksi di Denpasar dan Yogyakarta, tetapi tidak lolos di Jakarta).

Tahun ini pula, Windi meninggalkan Jembrana menuju Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Yogyakarta.

Teks: Nanoq da Kansas
Foto: De’a Yogantara

1 komentar:

silvimargaret mengatakan...

Selamat Siang, Ijin Post Yahh bossku
Tunggu Apalagi Segera Daftar dan Depositkan Segera Di E D E N P O K E R . X Y Z
- Minimal Deposit 15.000
- Bonus New Member 10.000
- Bonus Next Deposit 5%
- Bonus Rollingan 0,5%
- Bonus Refferal 10% (Seumur Hidup)
REAL PLAYER VS PLAYER !!!

Posting Komentar