berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

13 Oktober 2010

Winda Yudiari; Biola, Boneka dan Tengkorak

“Hidup ini mengalir. Maka aku pun mengalir di dalamnya. Aku tidak suka cara berpikir yang rumit, tetapi yang alamiah saja.,” demikian Inda di sebuah sore dalam obrolan di dunia maya, di akun facebook.

Dalam dunia nyata, kehadiran dara bernama lengkap Winda Yudiari ini barangkali bisa diibaratkan seperti angin di hamparan sawah. Terkadang lembut sekali, tetapi kadangkala terasa mendesir dan mampu meciptakan sederetan gelombang di pucuk-pucuk padi. “Sungguh menyenangkan rasanya membuat kehebohan-kehebohan kecil bersama teman-teman di sekolah. Hari-hari jadi terasa lebih berwarna,” tuturnya tentang keseharian yang dilakoninya di sekolah.

Siang itu, berbaluk dress kuning, Winda sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Wajahnya sedikit pucat karena beberapa hari terakhir terkena demam. Tetapi demam sungguh tidak mampu memudarkan senyum penyuka boneka, biola dan tengkorak ini. “Biola, tengkorak, dan boneka adalah benda-benda yang mampu membangkitkan rasa percaya diriku. Ketiga benda itu sama-sama membuat aku lebih pe-de dalam bergaul. Mungkin karena aku juga bisa memainkan biola dan drum, jadi gampang kenal sama orang. Soal boneka, ke sekolah dan les pun aku bawa boneka. Aku suka memainkan biola dengan nada-nada lembut dan keras. Lembut kayak boneka dan keras kayak tengkorak. Jadi semua itu seimbang dalam hidupku,” tuturnya.

Walau dengan rendah hati mengaku belum terlalu mahir dalam bermain biola, namun pengakuan orang-orang atas eksistensi Inda adalah sebuah jawaban. Putri tunggal Yudiningsih dan Subiyantoro ini pernah mengisi biola dalam sebuah kolaborasi dengan kesenian jegog SMPN 4 Negara dalam sebuah pegelaran yang diselenggarakan BPRI Jembrana. Dari penampilannya dalam pagelaran itu, ia pun sering mendapat tawaran untuk pentas bersama.

Ditanya kenapa memilih biola daripada alat musik lain, dara cantik kelahiran 23 April 1992 ini mengatakan ingin sedikit berbeda dari remaja sebayanya. ”Memang saat ini kebanyakan remaja memilih gitar, drum, organ atau piano. Tapi aku sudah kecantol dengan biola. Bermain biola juga tidak terlalu susah bagiku. Makanya aku lebih mantap dengan biola, karena aku ingin beda dari orang lain. Inilah diriku,” ujarnya dengan rasa percaya diri.

Inda pun yakin bahwa suatu saat nanti kepopuleran biola akan sejajar dengan alat musik lainnya terutama di kalangan remaja di Jembrana. Tapi itu perlu banyak waktu dan keseriusan para remaja untuk mengenal alat musik tersebut. “Saya harap biola bisa merambah di tengah-tengah kesibukan para remaja Jembrana saat ini. Dan saya yakin pula, biola pastinya akan lebih disukai remaja jika mereka sudah mengenalnya lebih jauh, apalagi memainkannya dengan serius.” demikian dara yang kini bergabung dalam sanggar musik Melodya di Jembrana ini.

Teks: Yuli Astari
Foto: Koleksi Winda

1 komentar:

Anonim mengatakan...

wah bole nie kolaborasi ma DYING IN PEACE...
hehehehehe

Poskan Komentar