berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

13 Oktober 2010

Rumah Panggung Riwayatmu Kini

Oleh R. Azhari

Dalam obrolan ringan di sebuah pos kamling, penulis sangat tertegun ketika teman diskusi membuka topik tentang situs rumah panggung, rumah yang dianggap cermin awal peradaban datuk moyangnya dahulu kini sedang mengalami kepunahan populasinya semakin menyusut dan tak tergantikan. Bangunan yang pernah menjadi ikon masyarakat loloan kini kurang mendapat perhatian untuk dijaga kelestariannya. Kawasan loloan pada awal pemukiman adalah merupakan konsesi raja-raja di Jembrana kepada pendatang ‘kampung loloan’ kala itu belum mengenal bangunan dari batu beton seperti sekarang ini, hanya dikenal bangunan kayu berupa rumah panggung sebagai karya dari negeri seberang.

Dari bangunan itulah lahir tradisi yang dibawa dari negeri asalnya dipelihara dan dijaga kelestariannya, kini kondisinya sangat memprihatinkan seakan hampir kehilangan roh dan akar dari kulturnya. Kenyataan ini dapat dilihat dari betapa banyaknya rumah panggung telah berubah bentuk bahkan lenyap dari tempatnya semula dan kemudian semakin langkanya dijumpai kebiasaan yang menjadi pelengkap tradisi pada suatu ritual keagamaan. Ini menandai semakin kritisnya keberadaan nilai-nilai yang pernah dibawa datuk moyang sebagai pembentuk identitas mereka.

Penulis memahami kegalauan teman ini ketika melihat wajah kampung halamannya telah banyak mengalami perubahan fisik, pelan dan pasti situs bangunan-bangunan tradisional (rumah panggung) yang semula dipelihara sebagai kawasan budaya kebanggaan kultur masa lalu kini mulai redup dikikis peradaban baru, sebuah ironi budaya yang meski mendapat perenungan untuk penelusuran bahan kajian.

Sikap skeptis masyarakat terhadap perubahan waktu untuk mempertahankan rumah-rumah adat ini belum tersentuh oleh siapapun juga bahkan kepedulian masyarakat sendiri pun seakan sulit untuk berpaling kepada siapa persoalan ini untuk diadukan.

Sebuah kesenjangan budaya telah terjadi disini begitu melebar sehingga sangat sulit untuk didekatkan kembali dalam kurun waktu dekat tanpa harus ada kesadaran baru untuk memulai mengaktualisasikan kebesaraan rumah-rumah adat yang pernah ada terhadap kemungkinan kepunahan, dan disadari pula fenomena ini telah berimflikasi terhadap indikasi yang mengarah pada pelunturan sisi kehidupan prilaku budaya masyarakat kalau belum mau dikatakan menuju kehilangan akar pijakan budaya sendiri.

Tentunya sulit untuk mencari siapa yang harus disalahkan dalam perubahan ini, tetapi kalau arif dapat kita telusuri ada beberapa indikasi yang mempengaruhi pelemahan kultur budaya masyarakat loloan untuk dapat dijadikan bahan kajian;

1. Ada yang menengarai awal dari pelunturan adat dan tradisi ini dimulai dari ketika pertama kalinya lekukan-lekukan sungai ijogading diluruskan, artinya keganasan sungai ijogading pada setiap musim penghujan selalu menbawa bencana banjir disepanjang bantaran sungai dari hulu sampai ke hilir tidak pernah terjadi lagi khususnya kawasan loloan. Kondisi aman dari ancaman banjir musiman dan binatang buas mendorong sebagian masyarakat penghuni rumah panggung yang didesain berupa bangunan kayu utuh itu satu persatu mulai meninggalkan ciri khas arsitekturnya.

2. Loloan yang berarti lekukan sungai terdapat sebuah dermaga dinamai teluk bunter riwayatnya berakhir ketika terjadi pelurusan sungai ijogading. Dahulu ramai dilabuhi perahu penisi pelaut bugis diakui sebagai jembatan penghubung serumpun yang hangat antar lintas nusantara. Jalinan yang telah membentuk kultur budaya itu ,kini sulit untuk direkatkan kembali karena tidak adanya upaya kearah itu oleh generasi saat ini yang tersisa sekalipun agak sulit untuk dilakukan.

3. Keberhasilan pemenuhaan kebutuhan ekonomi masyarakat mendorong perubahan gaya hidup dengan merubah sebagian atau seluruh struktur bangunan rumah panggung tanpa harus menyesali betapa gigih dan tangguhnya datuk moyang dahulu ketika memulai merencanakan mendirikan bangunan, menyusun dan merakit sedangkan bahan-bahannya didapat dari luar pulau nun jauh diseberang sesuatu yang sangat sulit dan tidak mudah untuk dilakukan oleh masyarakat sekarang, seluruhnya dilakukan dengan pertaruhan jiwa dan semangat kegotong royongan.

Lain halnya bagi masyarakat kurang beruntung dalam memenuhi kebutuhan hidup, ada juga yang mengambil jalan pintas yaitu menjual seluruh struktur bangunan kepada kolektor bangunan antic. Sekalipun demikian masih dijumpai situs rumah panggung masih kokoh berdiri tegak oleh pemiliknya tetap dijaga dan dipelihara.

4. Rumah pangung yang telah dibangun ratusan tahun oleh seniman pemberani merupakan inspirasi kekuatan budaya, dimana kini telah kehilangan makna historis hal ini menandai ada sesuatu yang hilang dari sebuah tradisi adat istiadat seperti prosesi adat perkawainan misalnya, berbagai jenis penganan kuliner luput dari pengisi hidangan.

5. Kesulitan mencari bahan kayu sebagai pengganti bagian-bagian rumah yang rusak menjadi alasan untuk membiarkan pelapukan struktur bangunan tanpa ada upaya alternative untuk memperbaiki.

6. Pembagian waris bagi sebagian ahli waris menuntut pertimbangan yang lebih adil terhadap bangunan pusaka berumur ratusan tahun itu apabila ingin tetap berdiri utuh sebagaimana bentuk aslinya.

Kalau kita sepakat bahwa rumah panggung adalah merupakan simbul bangunan sebuah peradaban masyarakat kampung loloan yang tidak dibatasi pada sebuah kawasan, maka kultur masyarakat telah menyebar ke seluruh kabupaten jembrana.

Sebelum generasi yang akan datang kehilangan jejak sejarah sangat arif bila diambil langkah-langkah yang dapat dijadikan acuan untuk menjaga kelestarian situs pusaka rumah panggung ;

Persoalan rumah panggung adalah bagian dari produk masyarakatnya sendiri, perlu dibangunan sebuah kesadaran baru bagi generasi sekarang untuk membentuk kembali kearifan lokal dari erosi transformasi budaya yaitu dengan memahami dan mendalami kultur budaya datuk moyongnya sendiri sebelum terjadinya persimpangan budaya yang lebih jauh lagi yaitu dengan membentuk atau menumbuhkan lembaga peduli terhadap kebudayaan lokal.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam mengambil peran untuk melestarikan situs rumah panggung sangat dibutuhkan, karena kebanyakan dari komunitas pemilik atau penghuni rumah paanggung adalah dari kalangan yang kurang beruntung sehingga kebutuhan biaya untuk memelihara bangunan banyak mengalami kesulitan.

Kajian dalam mengatasi persoalan ini adalah mendekatkan kebutuhan mereka dengan kemampuan pemerintah kabupaten diantaranya adalah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, dengan demikian diharapkan kesulitan biaya yang selama ini menjadi ganjalan bagi para pemilik rumah panggung dapat difasiltasi oleh Pemerintah.

Perlu ditumbuhkan serta didorong kesadaran masyarakat akan arti nilai sebuah kebudayaan yang tersimbul dalam bentuk bangunan rumah panggung beserta unsurt-unsur yang pernah ada untuk dipelihara kelestariaannya tanpa harus membiarkan dalam kepunahan. Adalah sangat disayangkan apabila generasi yang akan datang hanya pernah mendengar tetapi tidak pernah tahu apa dan bagaimana simbul kebudayaan datuk moyangnya dahulu.

Penulis bertempat tinggal di Loloan Timur, Negara-Jembrana, Bali

4 komentar:

Anonim mengatakan...

RINDU AJAK KAMPONG YANG LAME

Anonim mengatakan...

ini semua mimipi dr setiap org yg mencintai loloan sebagai tanah kelahirannya..smga kdpannya berdiri sbuah forum/komunitas/kelompok yg mmpu membangkitkan,melestarikan dan mewariskan kebudayaan,tradisi dan cirikhas di loloan.. agar tdk tergeser dr budaya pndatang yg sdh mnjamur di loloan tercinta...AWAK RINDU AJAK KAMPONG YANG LAME

Anonim mengatakan...

denari
tak terasa waktu bergulir mulai merubah wajah kampung halaman awak di loloan, pergeseran nilai tradisi meninggalkan yang lama,elok dan luhur. Harus ada yang memulai menyadarkan masyarakat untuk kembali kepada tradisi lama yang santun dan hormat kepada istiadat. Insya Allah kita akan mulai.

Anonim mengatakan...

semangat pak azhari

Poskan Komentar