berdamai dengan diri sendiri, di sanalah adanya cinta. dan sesungguhnyalah cinta tidak lahir dari kesemena-menaan.

-Nanoq da Kansas-

13 Oktober 2010

Trophy Adipura dan Sarang Penyakit

“Hati-hati, Pak. Sebaiknya sekarang jangan sering keluar rumah karena sedang ada wabah flu, batuk dan sakit mata. Terutama anak-anak, lebih baik tidak usah diajak keluar rumah dulu. Lingkungan kita sedang polusi virus,” ujar seorang apoteker di sebuah apotik di kota Negara kepada seorang bapak yang membeli obat flu buat anaknya.

Dari Denpasar,beberapa sumber yang dihubungi media ini melalui telepon, juga mengatakan hal senada. “Di sini hampir semua orang sedang kena flu. Belum lagi ancaman demam berdarah yang terus mengintai. Pokoknya saat ini sangat tidak nyaman. Cuaca tidak baik,” demikian beberapa sumber.

Dari Banjar Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, seorang warga juga mengabarkan bahwa sejak pertengahan Juni hingga awal Juli ini, wabah flu dan demam menyerang sebagian besar warga masyarakat setempat. “Sekarang warga satu desa ini semua demam dan flu. Anehnya setelah demam beberapa hari, muncul bintik-bintik merah di kulit, seperti medewa (cacar-red). Pokoknya tidak ada yang sehat di sini. Saya sendiri sudah empat hari ini demam,” demikian Ketut Sriani dari Banjar Kelating Dukuh via telepon.

Di kawasan Jembrana, tersebar informasi bahwa banyak warga yang terserang chikungunya. Bahkan oleh pemkab setempat, ada kawasan yang sudah dikategorikan dalam kondisi luar biasa (KLB) chikungunya. Penyakit sejenis demam yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti ini muncul pula secara sporadis di beberapa desa di luar kawasan yang dikategorikan KLB. Saking paniknya, beberapa kelian dinas bahkan buru-buru mengontak Dinas Kesehatan Pembak Jembrana meminta diadakan fogging di wilayahnya.

Belum tuntas persoalan chikungunya, wabah flu dan sakit mata datang menyusul di sejumlah kawasan di kota Negara. Dalam setiap percakapan antarwarga, tidak satu pun yang tidak mengeluhkan flu yang menyerang diri mereka sendiri dan anggota keluarga mereka. “Anak-anak saya semua sedang sakit flu. Padahal sekarang hari-hari awal sekolah mereka setelah libur kemarin. Sudah ke dokter dengan JKJ, tapi tak mempan,” keluh seorang warga dari Lingkungan Ketugtug, Kelurahan Loloan Timur.

Di Kawasan Tegalasih, Menega dan sekitarnya, warga mengeluh karena adanya wabah sakit mata. “Seluruh keluarga saya kena sakit mata. Tetangga juga. Semua kegiatan jadi terganggu,” demikian Yuli, seorang warga Dusun Menega. “Bukan hanya di sana, di Kelurahan Pendem juga banyak yang sakit mata,” sambung Ketut Sudiarti dari Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Negara.

Kenyataan yang Paradoks
Yang menjadi ironis atas kondisi dan situasi kesehatan warga masyarakat saat ini adalah, bahwa seluruh kabupaten di Provinsi Bali baru saja dihadiahi Trophy Adipura oleh pemerintah pusat. Masing-masing pemerintah kabupaten di Bali dengan bangga mengumumkan di koran-koran lokal tentang penghargaan kebersihan lingkungan yang mereka terima ini. “Semua bupati bangga mendapat penghargaan Adipura. Sayang sekali, semua kebanggan itu semu. Karena kalau kita lihat dengan jujur, kondisi kebersihan lingkungan di seluruh Bali saat ini gak ada yang bersih. Justru semakin kotor!” Demikian banyak pendapat yang terlontar.

Warga masyarakat mengatakan, adanya “hujan Trophy Adipura” yang jatuh di kabupaten-kabupaten di Bali tahun ini, tidak lebih dari sekedar proyek melanggengkan tradisi yang sudah terlanjur ada dalam birokrasi. “Trophy Adipura itu kan hanya tradisi. Bahkan bisa dibeli kok. Mana ada kemajuan dalam masalah kebersihan lingkungan di Bali? Yang ada justru lingkungan yang semakin rusak, semakin kotor dan semakin kumuh dengan berbagai sarang penyakit. Trophy Adipura dan fakta di lapangan adalah sebuah paradoksal di Bali,” kata warga.

Ungkapan kekecewaan warga masyarakat tersebut tentu tidak bisa dianggap enteng. Sebab jika semua pihak mau jujur, kenyataan atas kondisi lingkungan yang ada di era reformasi ini justru menunjukkan kemunduran yang sangat nyata. Di era reformasi ini, sudah lama sekali pemerintah daerah melupakan pemeliharaan lingkungan terutama dari sisi kebersihan. “Isu lingkungan yang mengemuka didominasi oleh isu-isu kerusakan hutan atau pembalakan liar. Masalah kebersihan lingkungan kota dan pemukiman warga menjadi terabaikan,” keluh mayoritas warga kota di Negara.

Pemandangan atas kondisi lingkungan di perkotaan dan di kawasan pemukiman saat ini, memang jauh lebih buruk daripada saat orde baru, di mana tradisi Trophy Adipura dimulai. Saat itu, daerah atau kota yang mendapatkan Adipura adalah daerah yang lingkungannya benar-benar bersih dan sehat. Setidaknya bersih dan rapi secara fisik. Namun sekarang, jangankan tampak bersih dan rapi di permukaan, kota-kota justru semakin kumuh dengan berbagai proyek pembangunan yang tumpang tindih. Lajur-lajur jalan raya yang ada yang sekaligus menjadi satu-kesatuan dengan jalur drainase saluran pembuangan air di kawasan kota, setiap saat mengalami bongkar-pasang karena perubahan dan penambahan bangunan suatu proyek. Hal inilah yang menjadi biang kerok atas tidak berfungsinya saluran-saluran pembuangan limbah yang ada di kota.

Tidak Kompak
Macetnya limbah di kawasan perkotaan dan pemukiman, adalah sumber pencemaran paling parah terhadap lingkungan pemukiman. “Kita sama-sama tahu, tidak ada saluran air dan limbah yang berfungsi dengan baik di seluruh kawasan perkotaan di Bali. Segala limbah mengendap di bawah trotoar jalan. Di sanalah bersarang berbagai bakteri dan virus bibit penyakit,” kata warga. Kondisi ini pulalah yang membuat begitu mudahnya berbagai penyakit mewabah saat ini.

Dalam hal ini, warga masyarakat memang tidak mau dipersalahkan. Mereka merasa sudah cukup berusaha memelihara lingkungan tempat tinggalnya. Persoalannya adalah tidak kompaknya kegiatan pemeliharaan lingkungan tersebut dilakukan. “Saya bisa tiap hari membersihan got di depan rumah saya, tetapi air dan limbah tetap tidak mengalir karena lajur got di sebelah mampet. Bukan karena tetangga malas, tetapi karena di ujung sana ada trotoar jebol yang belum diperbaiki oleh pemerintah,” ujar warga di Banjar Tengah, Negara.

Di samping itu, kegiatan pengerjaan berbagai proyek pembangunan fisik yang dilakukan setiap saat oleh berbagai instansi, punya andil besar dalam masalah kebersihan dan kelestarian lingkungan pemukiman. Dinas PU, PLN, Telkom dan PDAM, adalah instansi yang selalu mengganggu drainase atau got-got saluran limbah di perkotaan. PLN, Telkom dan PDAM sepanjang tahun selalu saja melakukan penggalian di ruas-ruas jalan, entah untuk perbaikan atau pun pemasangan jaringan baru. Penggalian yang mereka lakukan punya kemungkinan besar untuk merusak saluran air yang ada di pinggir jalan raya. Parahnya, ketika proyek mereka itu selesai, mereka tidak mampu mengembalikan saluran air yang terganggu seperti semula. Bahkan sisa-sisa meterial dari pengerjaan proyek tersebut seringkali dibiarkan menyumbat saluran air limbah di bawah trotoar.

Sementara itu Dinas PU juga selalu tidak tuntas saat melakukan perbaikan trotoar yang jebol atau pun ketika melakukan ronovasi total terhadap jalur-jalur trotoar. Trotoar hanya diperbaiki bagian permukaannya saja, sedangkan saluran air atau got di bawahnya tidak ikut dibersihkan sekaligus. Maka menjadi sia-sialah adanya trotoar yang tampak mentereng, sementara di bawahnya terdapat limbah yang tersumbat dan menjadi sarang berbagai sumber penyakit. Dengan kata lain, berbagai kegiatan pembangunan yang bersinggungan dengan saluran limbah di perkotaan tidak pernah dilakukan secara kompak dan terintegrasi satu dengan yang lainnya.

Demikian pula lingkungan pemukiman yang ada di desa-desa. Saat ini, di mana kegiatan gotong-royong semakin memudar karena tuntutan hidup masyarakat yang semakin berat, lingkungan hidup di pedesaan pun semakin terabaikan. Secara kasat mata dapat dilihat bagaimana semakin semrawutnya wajah desa atau dusun-dusun. Seluruh ruas jalan di pedesaan saat ini tidak memiliki saluran air yang baik. Pinggiran jalan pedesaan saat ini tidak lagi merupakan kawasan yang harus dipelihara rapi oleh warga masyarakat, tetapi tiap jengkal ditutup oleh tanaman rumput gajah. Dulu, setiap desa taat dengan awig-awig bahwa setiap kepala rumah tangga harus bertanggungjawab terhadap kebersihan telajakan jalan di depan rumah masing-masing. Warga yang mengabaikan kebersihan telajakan bisa kena sangsi adat. Tetapi sekarang, awig-awig telah dikalahkan oleh rumpun rumput gajah yang menutupi got atau saluran air di sepanjang ruas jalan desa.

Penanaman rumput gajah di pinggir jalan pedesaan memang tidak bisa dicegah. Warga masyarakat sekarang perlu makanan untuk ternak sapi atau kerbau mereka. Sementara kebun sudah tidak bisa ditanami rumput lagi karena sudah penuh oleh tanaman coklat, jati, sengon dan yang lainnya.

Serba dilematis memang. Dan sayangnya pemerintah daerah tidak memiliki inovasi serta kecerdasan yang baik untuk menanggulangi persoalan ini. Flu, pilek, demam, batuk, sakit mata, barangkali memang terdengar sepele. Tetapi bila wabah tersebut setiap saat muncul, tentu saja juga sangat mengganggu berbagai aktivitas semua orang. Daya produktivitas masyarakat pun sudah pasti menurun. Anomali cuaca yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam atas munculnya berbagai wabah penyakit, bukanlah tuduhan yang bijak. Karena sejatinya pemerintah dan semua orang memang tak becus mengurus lingkungan.

balibicara

0 komentar:

Poskan Komentar